|
Sabtu, 04 Maret 2006 21:30 |
Menjaga Silaturahim
Padanan kata 'Silaturahim' dalam bahasa politik disebut lobby, bahasa birokrat disebut koneksi,bahasa pedagang disebut komisi, dan dalam bahasa agamasilaturahmi.Silaturahmi berasal dari kata silat dan rahim. Silat artinya tali, sedangkan rahim artinya kasih sayang. Jadi, silatuhmi artinya hubungan kasih sayang antara sesama umat Islam. Itulah salah satu kelebihan agama Islam dibanding dengan agama lain ialah rasa persaudaraan (ukhuwah) antara para pemeluknya.
Meskipun dalam sejarah Islam banyak terdapat pertikaian antar kelompok, sehingga menimbulkan peperangan dan pertumpahan darah namun pada tingkat individu kaum Muslim berhasil menunjukkan tingkat solidaritas yang amat tinggi. Semangat itu amat terasa bila seorang Muslim pergi keluar negeri sekali dia menyatakan, bahwa dirinya adalah seorang Muslim, maka dia akan menemukan suasana yang sangat akrab dengan orang-orang Muslim dari negeri lain. Teladan persaudaraan Islam itu diberikan oleh Nabi Salallahu Alaihi Wassalam sendiri. Ketika beliau berhijrah dari Makkah ke Madinah, maka salah satu tindakan yang beliau lakukukan adalah "Persaudaraan (al mu'akhah) antara berbagai unsur anggota masyarakat baru Madinah, khususnya antara kaum Imigran Muhajirin dari Makkah dan kaum Penyambut atau "Penolong (Anshar)" di Madinah. Persaudaraan itu sedemikian rupa kentalnya, sehingga antara mereka yang dipersaudarakan itu, meskipun tidak mempunyai hubungan darah, dapat waris-mewarisi. Hubungan waris-mewarisi dalam Al Mu'akhah (Penyaudaraan) di Madinah itu memang kemudiaan dibatalkan karena tidak sejalan dengan salah satu prinsip dasar Islam yang lain, yakni fitrah. Sebab itu salah satu implikasi konsep fitrah itu ialah bahwa hubungan kefamilian yang waris-mewarisi haruslah berdasarkan pertaliaan alami sehingga hubungan serupa dengan anak angkat pun juga dibatalkan. Walaupunbegitu, persaudaraan Madinah itu berlangsung terus dalam semangat dan ruhnya yang kuat. Firman Allah Ta'ala "Sesungguhnya mereka yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu sekalian; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu semua dirahmati Nya." Lanjutan ayatnya "Wahai sekalian orang yang beriman ! Janganlah suatu kaum menghina kaum yang lain, kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang menghina); dan janganlah wanita menghina wanita lain, kalau-kalau mereka (yang dihina) itu lebih baik daripada mereka (yang menghina)..." (QS Al Hujuraat 49 : 10-11) Jadi, menurut petunjuk Allah, demi prinsip persaudaraan yang amat fundamental itu, hubungan sesama Muslim yang berbeda-beda paham atau tingkah laku sekundernya (sedangkan dalam paham dan tingkah laku primer tentu saja harus sama) jangan bertingkah absolutistik seperti sikap: "Saya pasti benar dan orang lain pasti salah" Melainkan harus dalam kerangka sikap yang relevalistik yakni sikap (seperti banyak dikutip dari Imam Abu Hanifah) : "Saya benar, tapi bisa salah dan orang lain salah tapi bisa benar" Dengan begitu Ukhuwah Islamiah sebenarnya menghendaki sikap-sikap terbuka antara sesama Muslim. Betapapun besarnya perbedaan sekunder dalam paham dan tingkah laku. Namun dalam berinteraksi "ideologis" sesama Muslim, kita harus menyimpan dalam hati sikap "keraguan yang sehat" (Healthy scepticm) yakni sikap cadangan dalam pikiran dan siap sedia mengakui kebenaran orang lain jika memang ternyata benar dan mengakui kesalahan diri sendiri jika memang ternyata salah. tentu hal ini bukanlah perkara mudah, karena memerlukan tingkat ketulusan dan kejujuran yang sangat tinggi, sementara kita rata-rata cenderung dikuasai hawa nafsu untuk merasa benar dan menang sendiri ! bersambung...
|