| Aksi Tipu-tipu Produk Denmark |
|
|
|
| Rabu, 22 Februari 2006 00:06 | |
|
Aksi Tipu-tipu Produk Denmark Pemerintah Denmark agaknya memang keras kepala. Alih-alih minta maaf atas ulah harian yang memuat kartun Nabi Muhammad, mereka malah mencoba malakukan aksi tipu-tipu. Saat boikot produk Denmark kian marak, otoritas perdagangan negeri itu, menyiasatinya dengan meminta para produsen menanggalkan label , dan menggantinya dengan . Langkah itu, telah dilakukan, misalnya, oleh Arla Foods. Arla kini mencopot merk dan tulisan buatan Denmark-nya dari seluruh produk ekspor mereka ke negara-negara muslim, dan menggantinya dengan label buatan Uni Eropa. Tak hanya itu, kini kapal-kapal berbendera Denmark juga menurunkan bendera negara mereka tatkala memasuki negeri-negeri muslim. Bendera negara menjadi nomor sekian, setelah pendapatan negara yang mencapai sekitar lima persen, atau tujuh miliar Kroner dari aktivitas ekspor impor. Sejak bergejolaknya aksi protes sehubungan pemuatan kartun yang melecehkan Nabi Muhammad di koran mereka, barang-barang asal Denmark memang terkena imbas. Terutama di Timur Tengah, kini produk asal negara Skandinavia itu menghadapi persoalan serius. Bukan sekadar masyarakat negara-negara muslim yang kini menolak mengkonsumsi, solidaritas dari jaringan ritel dunia seperti Carrefour, misalnya, juga menohok produk mereka. Lihat saja di Arab Saudi. Berbagai pasar swalayan utama Saudi bahkan jelas-jelas menempelkan plakat besar yang menyatakan tidak lagi menjual produk Denmark. Dengan semakin maraknya aksi protes, tidak pelak, plakat itu efektif menggugah simpati orang datang ke toko tersebut. Toko yang sikapnya ''tidak jelas'' sudah jauh hari mereka tinggalkan. Di Kuwait, boikot itu bahkan didukung penuh pemerintah. ''Kami menyatakan dukungan kepada supermarket yang tidak lagi menjual produk negara itu,'' bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuwait. Jaringan ritel terbesar di negara itu, (UCS), sejak awal bahkan langsung menarik produk Denmark dari pajangan mereka. ''Sekitar 50 perusahaan sepakat menyetop impor barang dari Denmark,'' kata Presiden UCS, Mohammed al-Mutairi, saat diundang ke Parlemen. Pihak Parlemen bahkan lebih galak. Ketua Parlemen Kuwait, Jassem al-Khorafi, meminta boikot ekonomi total. ''Itu akan menjadi pelajaran bagi mereka yang ingin mengulangi penghinaan di masa depan,'' kata dia. Sikap itu tentu akan memengaruhi perdagangan Kuwait-Denmark, yang setiap tahun mencatat angka sekitar 170 juta dolar AS, atau sekitar Rp 1,5 triliun. Sementara di Bahrain, selain diprotes Parlemen, massa juga membakar hasil olahan dari Denmark di jalanan ibukota negara itu. ''Jika Anda tanya, bagaimana jika ini mempengaruhi bisnis di Bahrain? Islam jauh lebih penting dari apapun,'' teriak anggota Parlemen, Syeikh Muhammad Khalid Muhammad, saat berdemonstrasi. Hingga saat ini, segala protes dan boikot itu masih disikapi Pemerintah Denmark dengan gaya jumawa. Selain tetap menolak meminta maaf, atau menekan Harian untuk meminta maaf kepada kalangan muslim dunia, mereka menyatakan ekonomi mereka tidak terpengaruh boikot. ''Boikot itu mungkin saja berpengaruh terhadap produsen barang konsumen kami, tapi tidak besaran ekspor kami,'' kata Kepala Konfederasi Industri Denmark, Henriette Stoeltoft. Bahkan, analis Danske Bank (bank milik pemerintah Denmark), Steen Bocian, menyatakan optimisme yang besar. ''Ekonomi Denmark cukup tegar untuk menahan boikot menyeluruh negara-negara muslim,'' kata dia. Benar tidaknya pernyataan resmi itu, mungkin akan terkuak pada saatnya. Namun, , eksportir barang keperluan sehari-hari Denmark ke Timur Tengah, mulai loyo dihantam boikot tersebut. Arla mengakui, sejak barang-barang mereka mulai ditarik dari pasaran, dua pekan lalu, mereka merugi sekitar 10 juta Kroner -- sekitar 1,6 juta dolar AS -- setiap hari. Mereka juga telah merumahkan tidak kurang dari 125 pekerja mereka. Rekan senasib Arla, perusahaan farmasi Novo Nordisk, juga mengakui bahwa mereka telah kehilangan kontrak suplai insulin senilai 200 juta Kroner ke Turki, segera setelah maraknya boikot. Danisco, salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia, juga mengaku banyak menerima pembatalan kontrak setelah insiden kartun itu meruyak. ''Kami sudah mulai merasakan dampak jatuhnya penjualan,'' kata Juru Bicara Danisco, Carl Johan Corneliussen. Bahkan sejumlah importir Indonesia pun dikabarkan telah menangguhkan kontrak mereka akan produk Denmark. Selama ini, setidaknya Indonesia mengimpor produk Denmark senilai 509 juta Kroner, per tahun. Meski nilai ekspor Denmark ke Timur Tengah itu hanya mencatat sekitar tiga persen pendapatan negara itu, tidak urung reaksi boikot itu membuat kalangan industri Denmark . ''Perasaan saya,aksi boikot ini akan bertambah besar,'' kata Sune Salling-Mortensen, juru bicara Grundfos, sebuah perusahaan peralatan industri Denmark. Jadi, jika Anda seorang pendukung boikot produk Denmark, semestinya kini berhati-hati dengan barang berlabel yang dipakai. Jangan-jangan, di sana sebelumnya tertempel stiker .
|
Add your comment
| |









