|
Selamat Tahun Baru Hijriyah … 1427 H Semoga Allah selalu melimpahkan Rachmat dan berkahnya, dan senantiasa menuntun kita ke dalam kebaikan…Amiin Kawan, Sudah tahun baru lagi Belum juga tibakah saatnya kita menunduk Memandang diri sendiri Bercermin firman Tuhan Sebelum kita dihisabNya
Kawan siapakah kita ini sebenarnya Musliminkah Mukminkah Muttaqin Khalifah Allah Umat Muhammadkah kita ? Kahira Ummatinkah kita ? Atau kita sama saja dengan mahluk lain Atau bahkan lebih rendah lagi Hanya budak-budak perut dan kelamin Iman kita kepada Allah dan yang ghaib Rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan Lebih pipih dari kain rok perempuan betapapun kita tersiksa kita khusyuk didepan massa dan tiba-tiba kita buas dan binal justru pada saat sendiri bersamaNya Syahadat kita rasanya seperti perut bedug atau pernyataan setia pegawai rendahan saja kosong tak berdaya Shalat kita rasanya lebih buruk daripada senam ibu-ibu lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai dari pada lamunan seribu anak muda (doa kita sesudahnya jauh lebih serius kita memohon hidup enak didunia dan bahagia di sorga) Puasa kita rasanya sekedar mengubah jadwal makan-minum dan saat istirahat tanpa menggeser acara buat syahwat ketika datang lapar dan haus kita pun manggut-manggut o, beginikah rasanya... dan kita sudah merasa memikirkan saudara-saudara kita yang melarat Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilannya untuk kupon undian yang sia-sia kalaupun terkeluarkan harapannya pun tanpa ukuran hubaya-hubaya Tuhan menggantinya berlipat ganda haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri mencari pengalaman spiritual dan material membuang uang kecil dan dosa besar lalu pulang membawa label suci asli made in Saudi : Haji kawan, lalu bagaimana bilamana dan berapa lama kita bersamaNya atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya mensiasati dunia sebagai khalifahNya Kawan, tak terasa kita memang semakin pintar mungkin kedudukan kita sebagai khalfah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan kita berkelahi demi menegakkan kebenaran melacur dan menipu demi keselamatan memamerkan kekayaan demi mensyukuri kenikmatan memukul dan mencaci demi pendidikan berbuat semaunya demi kemerdekaan tidak berbuat apa-apa demi ketentraman membiarkan kemunkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah semua sampaipun yang paling tidak baik lalu bagaimanakah para cendekiawan dan seniman para mubaligh dan kiai penyambung lidah nabi ? jangan ganggu mereka ! para cendekiawan sedang memikirkan segalanya para seniman sedang merenungkan apasaja para mubaligh sedang bertereak kemana-mana para kiai sedang sibuk berfatwa dan berdoa para pemimpin sedang mengatur semuanya biarkan mereka diatas sana menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri kawan, selamat tahun baru belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri.
|