Kolom Khusus

 
Kalender Kegiatan Remaja Islam Sunda Kelapa

Radio Streaming RISKA
Live Kajian PARIS


listen with Window Media Player   listen with Winamp   listen with iTunes   listen with RealPlayer

Support Online RISKA


Partner RISKA

Banner

RISKA Movie Production

Feeling Good Being a Housewife PDF Cetak E-mail
Kamis, 16 November 2006 23:39

Penambahan kata ’cuma’ di depan kata ibu rumah tangga, menandakan para ibu rumah tangga itu tidak percaya diri dan menganggap dirinya kurang hebat dan tidak memiliki potensi apa pun.
Padahal, seorang ibu rumah tangga adalah manajer domestik yang mampu melakukan banyak pekerjaan (multitasking) dalam waktu bersamaan.

Dengan sederet tanggung jawab yang melekat pada profesi ibu rumah tangga, mereka bekerja bak ratu semut, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jika kebetulan seorang wanita memilih peran ganda, sebagai ibu rumah tangga sekaligus bekerja di kantor, maka tanggung jawabnya menjadi dua kali lipat.

Hal tersebut dipaparkan oleh Yati Utoyo, dekan fakultas psikologi Universitas Indonesia yang juga seorang ibu rumah tangga. "Ibu rumah tangga adalah manajer domestik yang paling hebat, mereka mampu mengatur waktu dengan baik dan bisa menjadi manajer keuangan yang handal," paparnya.

Menurutnya, fenomena kurang pede-nya para ibu rumah tangga tersebut antara lain disebabkan karena berkurangnya penghargaan terhadap profesi ibu rumah tangga dari lingkungan sekitarnya, bahkan dari keluarga terdekat. 

Selain itu, banyaknya wanita yang bekerja di luar rumah, semakin membuat ibu rumah tangga merasa diri mereka bukan apa-apa," tambah Yati di depan finalis agen 1000 sunlight, di Jakarta, Selasa (19/9).

Kehebatan profesi ibu rumah tangga juga diakui oleh artis yang kini terjun di dunia politik, Nurul Arifin. "Tidak mudah menjadi ibu rumah tangga, saya sangat appreciate kepada para ibu rumah tangga yang berada di rumah untuk mengurus keluarganya selama 24 jam. Kalau saya harus melakukan itu setiap hari pasti akan stres,"ucapnya jujur.

Lalu apa kiatnya agar para ibu rumah tangga semakin bangga akan profesinya, bahkan mampu mengeluarkan potensi yang dimilikinya ? Jawabannya, menurut Yati adalah dengan mulai melihat dan menghargai sukses dalam keluarganya, bahkan yang mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain.

"Jika anak-anak kita bisa tumbuh dewasa dan bebas narkoba, bukankah itu suatu prestasi ?, tanyanya yang disambut dengan anggukan kepala para ibu-ibu yang hadir. Untuk mengeluarkan potensi diri para ibu rumah tangga, Yati menuturkan bahwa hal itu bisa dimulai dari hal-hal kecil, yang bisa dikerjakan dari rumah.

Misalnya seperti yang dikerjakan oleh Sriatun Djupri (53), ia adalah potret seorang ibu rumah tangga sekaligus pejuang lingkungan. Berkat usahanya, kini lingkungan di sekitar rumahnya, kampung Jambangan dan daerah Surabaya, Jawa Timur, menjadi daerah yang bersih.

"Saya memulai semuanya dengan melakukan penyadaran kepada ibu-ibu di sekitar lingkungan, bahkan saya datangi satu-persatu,"ujarnya. Dengan gigih, Sriatun mengajarkan pentingnya kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, hingga penghijauan. Ia pun masuk nominasi sebagai penerima Kalpataru tahun 2006.

Yang juga penting agar para ibu rumah tangga tetap melakukan pekerjaannya tanpa beban, menurut Nurul adalah dengan memiliki teman berbagi. "Ngerumpi juga bisa memiliki arti positif, karena dengan ngobrol kita bisa mengeluarkan unek-unek sehingga rasanya lebih plong,"ujarnya.

Jadi, jika pekerjaan ibu rumah tangga dijalani dengan ikhlas, tanpa beban, mendapat penghargaan dari keluarga, bahkan bisa mengeluarkan potensi dalam diri, maka sudah saatnya kita sebagai ibu rumah tangga dengan bangga mengucapkan, "Saya ibu rumah tangga," saat menyebutkan profesi. (An)

sumber berita : Kompas.com



 

 

Add your comment

Your name:
Judul:
Comment:

Banner