| Mengalokasikan Penggunaan THR |
|
|
|
| Senin, 25 September 2006 23:09 | |||
|
Oleh: Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan Apa yang ada di benak Anda ketika bulan Ramadhan tiba? Sebagian besar mungkin akan memfokuskan diri pada kegiatan keagamaan sehingga benar-benar mendapatkan berkah bulan Ramadhan. Jika Anda seorang karyawan/karyawati, mungkin juga sudah tidak sabar menunggu datangnya tunjangan hari raya (THR). Pertanyaannya, mau digunakan untuk apa THR tersebut jika sudah diterima?
Jawabannya akan sangat beragam. Ada yang sudah merencanakan dana THR untuk membeli pakaian baru, biaya transportasi mudik Lebaran, dan sebagainya. Memang tidak ada yang salah dengan peruntukan tersebut. Tetapi, apakah benar peruntukan THR semata-mata untuk membiayai kebutuhan konsumtif dalam rangka merayakan Idul Fitri? Sejatinya tidak. THR pada galibnya adalah pendapatan tetap seorang karyawan/karyawati, sama seperti gaji bulanan. Hanya saja, THR diterima setahun sekali. Dengan kata lain, seorang karyawan/karyawati umumnya menerima pendapatan sekitar 14 kali setahun sebagai pendapatan tetap. Oleh karena itu, sebagai bagian dari pendapatan tetap, mestinya THR juga dikelola sebagaimana prinsip mengelola pendapatan tetap. Pendapatan tetap Apa itu prinsip pengelolaan pendapatan tetap? Alokasikan untuk belanja konsumsi, tabungan, dan investasi. Lalu, apakah peruntukan THR persis sama seperti itu? Jika memungkinkan, sebaiknya demikian. Artinya, sebagian saja dari THR yang dipakai belanja konsumsi, dalam hal ini termasuk pakaian dan makanan. Jangan lupa, Anda juga memiliki pendapatan gaji pada bulan Ramadhan yang sebagian alokasinya juga untuk konsumsi. Jadi, belanja konsumsi Anda sebenarnya sudah dua kali lipat, di mana sebagian dananya berasal dari gaji dan sebagian lagi dari THR. Lalu, bagaimana dengan alokasi untuk tabungan dan investasi? Mengingat THR hanya diperoleh sekali dalam setahun, jumlah dana yang bisa diinvestasikan relatif tidak terlalu besar sehingga investasi menggunakan THR tidak berpotensi menjadi prioritas. Yang lebih mungkin adalah menggunakan sebagian dana THR untuk meningkatkan aset neto Anda. Apa maksudnya? Sederhana saja. Selain memiliki aset, tentunya Anda juga memiliki utang. Dengan kata lain, sebenarnya aset neto Anda adalah nilai bersih aset, yakni setelah dikurangi jumlah utang. Menaikkan aset neto tersebut bisa dilakukan salah satunya dengan mengurangi utang. Konkretnya, Anda bisa mengalokasikan sebagian THR tersebut untuk melunasi utang. Mungkin Anda akan mengatakan utang Anda cukup besar. Tidak mungkin dapat dilunasi hanya dengan menggunakan dana THR. Boleh jadi Anda benar. Tetapi, jangan lupa, THR tidak dimaksudkan untuk melunasi seluruh utang Anda, melainkan mengurangi. Salah satu jenis utang yang paling relevan dikurangi adalah utang kartu kredit. Jadi, kalau selama ini Anda membayar utang kartu kredit Anda secara minimum, kali ini bayarlah penuh jika memungkinkan. Membayar utang kartu kredit secara penuh juga membuat Anda lebih leluasa menggunakannya sehubungan dengan kegiatan belanja terkait perayaan Idul Fitri. Sebagaimana dipaparkan di atas, sebagian THR tersebut akan Anda gunakan untuk konsumsi. Nah, tatkala belanja, Anda bisa saja menggunakan kartu kredit kembali, dalam konteks kemudahan transaksi dan sepanjang memang dana untuk membayarnya kembali sudah tersedia, yakni diambil dari THR Anda. Lalu, bagaimana implementasinya? Katakanlah Anda menerima THR Rp 10 juta. Anda memiliki utang kartu kredit Rp 5 juta. Gunakan Rp 5 juta dari THR Anda untuk melunasi kartu kredit dan Rp 5 juta lagi masukkan ke dalam tabungan Anda. Berikutnya, Anda tentu akan belanja untuk merayakan Idul Fitri. Nilai belanja Anda tidak boleh lebih dari Rp 5 juta. Untuk memudahkan, belanja Anda bisa saja dilakukan dengan menggunakan kartu kredit. Untuk pembayarannya, akan Anda ambil dari tabungan yang tersedia, yakni Rp 5 juta itu tadi. Dengan cara semacam itu, paling tidak Anda akan memperoleh manfaat dari sisi waktu pembayaran kembali yang bisa satu bulan ke depan. Investasi Itu adalah contoh penggunaan bagi kalangan yang memang kebetulan memiliki utang. Bagaimana pula jika Anda benar-benar memperoleh THR sebagai dana yang bisa dipergunakan secara lebih fleksibel? Apa yang mesti dilakukan? Jika Anda seberuntung itu, peruntukan THR tentu saja layak dialokasikan untuk investasi. Dalam hal ini investasi yang dimaksud bukan semata-mata investasi keuangan, melainkan juga investasi bersifat keagamaan, seperti memberi sedekah dan berbagai amal lain yang lazim dilakukan di bulan Ramadhan. Kesimpulannya, THR bukanlah pendapatan tiba-tiba yang peruntukannya semata-mata untuk membiayai konsumsi, melainkan mesti dikelola sebagaimana pendapatan tetap Anda. Hanya saja, mengingat THR itu hanya diperoleh setahun sekali, prioritas penggunaannya lebih pada membayar utang, selain sebagian untuk konsumsi kebutuhan Lebaran. Dengan cara semacam itu, THR Anda akan memberi manfaat lebih besar ketimbang hanya untuk belanja lebaran. sumber berita : www.kompas.co.id
|
Add your comment
| |









