| BUDAYA KONSUMTIF DALAM BULAN PUASA |
|
|
|
| Kamis, 16 Oktober 2008 20:10 | |||
|
BUDAYA KONSUMTIF DALAM BULAN PUASA
Oleh : Andi Tenri Dala F Media Indonesia, Ahad 28 September 2008 Seorang sahabat bertanya-tanya kenapa ia tidak bisa menabung di setiap bulan Ramadhan. Uang saku bulanan dari orang tua yang biasa dikelola sampai akhir bulan, habis dalam waktu dua minggu. Sejak mencatat pemgeluaran di Ramadhan tahun ini dia baru sadar kalau keperluan belanjanya membengkak. Dana buka puasa dengan teman kampus, reunian dengan teman-teman SD, tas mukena baru, cemilan-cemilan untuk dimakan saat buka puasa dan setelah tarawih adalah sebagian kecil pengeluarannya.
’Pembengkakan’ belanja tidak hanya dialami si sahabat. Dua hari sebelum satu Ramadhan perusahaan retail terkenal di Lebak Bulus dipadati pembeli yang belanja dalam rangka menyambut Ramadhan. Jumlah pengunjung membludak dibandingkan hari-hari biasa. Hari sabtu jam 9 malam biasa daerah sekitar Lebak Bulus lengang, berubah macet. Kemacetan tidak hanya di Lebak Bulus tapi sampai Pondok Indah. Pengunjung seperti berebut membeli barang-barang konsumtif seperti biskuit, sirup, dan lain-lain. Bahkan baju koko, jilbab dan perlengkapan ibadah lain di perusahaan retail tersebut laris manis. Pengingkatan pengunjung di tempat pembelanjaan, khususnya yang menjual makanan, juga terjadi menjelang jam 4-5 sore selama Ramadhan. Keluarga-keluarga berbelanja dalam supermarket atau hypermert yang nyaman. Si ibu membeli ayam, padahal dalam kereta belanja sudah ada corned beef, makaroni, dan tempe. Sementara anak-anak yang dibawa mengambil berbagai makanan ringan. Sepertinya peningkatan belanja di bulan Ramadhan sudah lumrah. Umat muslim di kota-kota besar seperti di Jakarta mendadak merasa kebutuhan mereka bertambah. Entah itu kebutuhan makanan, baju, dan hiburan. Kebutuhan meningkat itu memang pasti terjadi karena bulan Ramadhan identik dengan bulan berbagi dan meningkatkan sedekah. Rumah yatim piatu yang biasa jarang dikunjungi di luar bulan Ramadhan mendadak mendapat banyak sumbangan termasuk undangan buka puasa. Acara silaturahmi ke sanak saudara dan teman-teman mendadak menjadi agenda yang harus dijadwal dari awal Ramadhan sampai lebaran. Sayangnya dalam acara silaturahmi ini terjadi kemubaziran. Martabat seseorang dinilai dari materi. Prestise dijaga dengan penyuguhan beraneka makanan. Membeli beraneka bahan pangan untuk diolah menjadi makanan-makanan lezat bukan hanya untuk memanjakan tamu tapi juga agar si tuan rumah terkesan mewah dalam menjamu tamu. Acara berkunjung ke rumah yatim piatu, keluarga, dan teman memang penting sebagai penyambung tali ukhuwah. Selain acara silaturahmi kemubaziran demi menjamu orang lain atau sikap komsumtif juga berlaku untuk diri sendiri. Selama 12 jam lebih menahan lapar, keinginan seseorang untuk makan menjadi tinggi, rasa lapar membuat orang puasa membayangkan berbuka puasa dengan makanan kesukaannya. Dari sekedar membayangkan, ia terdorong belanja makanan. Di sini kemubaziran sangat tinggi. Karena belanja makanan tapi saat buka puasa perut hanya menerima satu sampai dua jenis lauk saja. Istilah lapar mata lebih tepat untuk kasus di atas. Di mana orang yang lapar waktu melihat jualan beraneka macam makanan, jadi ingin membeli semua. Padahal ia tahu kapasitas perutnya hanya bisa menerima sedikit makanan. Ada anekdot perbedaan ngabuburit zaman dulu dan zaman sekarang. Kata ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu buka puasa. Apa kegiatan spesifik ngabuburit tidak ada. Tergantung setiap orang melakukan apa sambil menunggu azan maghrib. Jika bertanya ke orang tua apa kegiatan ngabuburit apa yang mereka lakukan saat remaja. Mayoritas akan menjawab ngaji di rumah atau di masjid. Ada juga harus membantu orangtua menyiapkan hidangan buka puasa. Berbeda dengan ngabuburit dulu identik dengan ngaji, ngabuburit sekarang tidak sedikit menjurus ke hal-hal konsumtif seperti belanja. Ngabuburit di pusat perbelanjaan ini yang bisa membuat orang terdorong belanja berlebihan. Ada mall atau pusat perbelanjaan mengadakan kegiatan positif seperti ngabuburit in mall. Acara diisi dengan tausiyah dan kegiatan keagamaan lainnya. Budaya konsumtif tidak memandang usia. Dari anak-anak sampai dewasa bisa punya sikap konsumtif berlebih-lebihan. Tapi remaja selalu menjadi sasaran utama. Remaja identik dengan mencari jati diri sehingga menyukai citra baru dan barang-barang baru. Tren yang cepat berubah mendorong pola hidup konsumerisme. Saat bulan puasa, produsen berlomba-lomba menciptakan suasana Ramadhan yang sangat kental sekali. Penjualan barang mengalami perubahan sedikit. Kalau di bulan lain pakaian muslim dijual di toko-toko tertentu, di bulan Ramadhan pakaian muslim dijual di mana-mana dan dipajang semenarik mungkin. Perlengkapan ibadah yang jarang dijual, juga mendadak dijual di mall-mall besar. Suasana Ramadhan yang sangat terasa ini bisa mensugesti remaja untuk berbelanja. Remaja merasa saatnya merubaj citra diri lebih Islami dengan memakai busana muslim baru dan membeli perlengkapan ibadah baru yang menunjang penampilan. Sama halnya dengan musik, film, dan buku Islam seperti laku keras di bulan Ramdhan. Remaja dan konsumen lain seperti hanya ingin belajar Islam dan tertarik dengan kesenian Islam saat bulan Ramdhan saja. Menjelang Idul Fitri sifat konsumtif bisa lebih meningkat di awal puasa. Ini karena budaya mudik di masyarakat kita. Di kendaraan umum ada dua orang buruh pabrik sedang mengobrol tentang mudik. Salah satu pulang ke Jogjakarta sedangkan yang lain ke Berastagi. Mereka mengeluh secara tidak langsung kalau persiapan mudik sangat ribet karena harus membeli oleh-oleh untuk sanak famili di kampung. Uang untuk para keponakan tidak cukup. Kalau bisa juga membeli buku, mainan, dan baju baru. Belum lagi orang dewasa minta dibelikan ponsel dan MP3 Player. Sepuluh hari terakhir yang seharusnya dipakai untuk itikaf di masjid dan meningkatkan ibadah sunnah lain, menjadi saat heboh bagi yang akan mudik. Pusat perbelanjaan menjadi sangat padat. Bahkan ada yang membatalkan puasa karena tidak tahan lapar dan haus. Itu semua demi mendapatkan baju baru murah di pusat perbelanjaan grosir. Berbicara tentang baju baru, orang tua saya mengatakan saat mereka muda baju baru hal sangat ditunggu-tunggu. Apalagi yang masih tinggal di kampung. Anak-anak dan remaja baru mendapat baju baru saat lebaran. Tidak heran dulu lebaran identik dengan memakai baju baru. Berbeda dengan sekarang, baju baru bukan sesuatu yang ’mewah’ lagi. Kalau tahu pusat perbelanjaan, kita bisa mendapatkan baju dengan model yang sedang in dengan harga murah. Sikap konsumtif bisa membahayakan siapapun termasuk remaja yang menjadi incaran produsen. Tapi kecenderungan sikap konsumtif berlebihan bisa mendorong remaja berusaha sebisa mungkin mendapat semua materi yang diinginkan. Di koran dua tahun lalu ada berita seorang remaja nekat menjual perhiasan orangtuanya demi bisa bersenang-senang dengan temannya di malam takbir. Si remaja tersebut membeli petasan yang diledakkan di berbagai tempat. Sikap konsumtif seperti itu tidak hanya membahayakan keluarganya tapi juga masyarakat. Berita tentang orang luka dan tewas karena petasan hampir ada di setiap bulan Ramadhan. Obat dari sikap konsumtif ini sebenarnya sudah diketahui orang-orang. Hanya apakah ia punya tekad menghilangkan sikap konsumtif itu. Sikap empati adalah cara ampuh agar seseorang bisa mengendalikan diri membeli barang-barang berlebihan. Bulan Ramadhan yang identik dengan berbbagi justru menjadi momen tepat untuk meningkatkan sikap dermawan. Saat terdorong untuk belanja, pengendalian diri punya peran penting. Apakah mau membeli barang untuk prestise dan memuaskan nafsu belanja atau mau belanja sesuai kebuthan atau juga memberikan uang kepada mereka yang membutuhkan sedekah. Menjelang akhir bulan Ramadhan ini kita bisa bertanya ke diri. Untuk apa uang yang sudah dibelanjakan?
|
Add your comment
| |









