Pelatihan Menulis RISKAder PDF Cetak E-mail
Jumat, 25 April 2008 01:15
Sebenernya pelatihan menulis ini diadakan sebagai penjembatan project peluncuran buku yang akan ditulis oleh Riskader sendiri. setelah pelatihan, Riskader langsung mempraktekan ilmu dengan menulis pengalaman berdakwah selama di RISKA. nantinya naskah yang masuk akan diseleksi dan di edit oleh tim Jurnalistik. hasilnya akan dibuat buku, dengan jenis buku pencerahan dan motivasi. sehingga bisa dibaca oleh remaja2 lainnya. karena RISKA sendiri sudah banyak membuat acara2 keagamaan yang seru. sayang banget kalo cuma dirasain sendiri. dibalik kegiatan apapun yang sudah dikerjakan di RISKA pasti ada hikmah yang dapat dibagi kepada teman2 lain di luar sana.

Dalam buku "Etika Kesarjanaan Muslim" karya Franz Rosenthal (yang pernah ne baca dalam tulisan Chandra Kurniawan) kita tentu mengenal Imam Malik, salah seorang imam mazhab. tetapi sedikit dari kita mengenal Imam Laits bin Sa'd. padahal menurut Imam Syafi'i, Imam Laits lebih faqih ketimbang Imam Malik. tapi, kenapa Imam Malik lebih populer daripada Imam Laits? Jawabannya adalah, Imam Malik telah menulis buku, yaitu kitab al-Muwatha. sedangkan Imam Laits, tidak. pemikiranya mati bersama kematian beliau.

kita juga mengenal Imam Ibnu al-Jauzy, Imam Ibnu, Taimiyah, dan Imam Ibnu al-Qayyim karena buku2 mereka. bahkan Imam Ibnu Taimiyah tetap memaksakan diri menulis walaupun dengan arang, karena pada saat itu pena2nya disingkirkan oleh pemerintah zalim. beliau juga tetap menulis walaupun berada dalam penjara. Imam Ibnu al-Jauzy biasa menulis 40 halaman sehari dan buku2 yang ditulisnya mencapai 250 judul. satu judul buku ada yang mencapai 10 jilid.

pada tokoh lain, sedikit kita yang mengenal nama Yusuf bin Ashbat, seorang perawi hadits. kenapa? karena kitab hadits yang sudah lama ditulisnya,  beliau kuburkan ke dalam tanah. alasannya? hanya ingin berkonsentrasi beribadah kepada Allah. dan menurut Imam Bukhari, di masa berikutnya Yusuf bin Ashbat ingin kembali meriwayatkan hadits, namun ingatannya melemah seiring bertambahnya usia. seandainya kitab yang ditulisnya masih ada, beliau dapat membacanya kembali jika lupa.

upaya yang paling gigih adalah apa yang dilakukan Imam Jalaluddin as-Suyuti. beliau telah menulis lebih dari 500 kitab. walaupun menurut Husayn Ahmad Amin-seorang pemikir Mesir-pemikiran orisinil Imam Suyuti tidak tampak dalam buku2nya, tetapi beliau telah melestarikan dan memenuhi kitab2nya dengan pendapat dan pemikiran ulama2 dahulu yang kitab2nya tidak ditemukan lagi.

artinya, Imam Suyuti ibarat pelari yang memberikan tongkat estafet ke pelari  berikutnya. jika tidak ada buku2 Imam Suyuti, mungkin kita tidak mengetahui pendapat ulama A,B,C,dan sebagainya.

namun, kita masih beruntung memiliki ulama2 yang gigih mengumpulkan kembali "puing2" reruntuhan itu. mereka berkelana ke segenap penjuru untuk menanyakan kepada banyak orang, apakah masih ada yang menyimpan salinan buku ini dan itu.

sesungguhnya tradisi menulis sangat bermanfaat. karena dapat menghubungkan suatu masa satu dengan lainnya. penghancuran perpustakaan Islam oleh pasukan Mongol di Baghdad telah menghancurkan sebagian besar warisan masa silam. saking banyak nya buku yang dilempa ke sungai Tigris, sungai tersebut berubah menjadi hitam karena lunturnya tinta dalam buku.

--
           ('Ne)
 

Add your comment

Your name:
Judul:
Comment:

Banner