SARISKA:Sapi Pertama di Pulau Tunda PDF Cetak E-mail
Jumat, 28 Desember 2007 17:37

SARISKA : SAPI PERTAMA DI PULAU TUNDA (MERQURI 1428 H)

 
“Ana sapi geuh, ning bale desa (ada sapi tuuuch di balai desa)” Kata seorang warga Pulau Tunda dengan logat jawa Serang ketika melihat sapi bersandar di dermaga kanal laut. Tak pelak, anak – anak pun berduyun – duyun ingin menyaksikan hewan sapi yang mungkin selama ini mereka kenal melalui buku pelajaran sekolah saja.
Tak ketinggalan, Ibu – ibu pun menggendong anak balitanya dan mencari posisi duduk yang enak untuk menyaksikan hewan yang namanya sapi. “Oou..namanya RISKA” Celetuk dari mereka melihat tulisan RISKA di punggung sapi. Sejak itu, SARISKA (Sapi RISKA) pun terkenal seantero Pulau Tunda dan menjadi hiburan masyarakat setempat di waktu sore hari.


Suasana seperti itu dirasakan ketika amanah dari teman-teman RISKA berupa seekor sapi dan sembilan ekor kambing tiba di Pulau Tunda Serang. Memang, SARISKA hewan pertama yang bersandar di Pulau Tunda. Karena daerah laut dengan pasir pantainya membuat jarang hewan lain ada selain ikan. Rencana RISCUE (RISKA RESCUE) untuk mengadakan qurban di pulau tersebut sebenarnya sudah muncul sejak tahun kemarin, 2006. Namun menjelang hari H, Allah SWT belum menginjinkan kami untuk berbagi dengan mereka. Ombak dan angin laut sedang tidak bersahabat, burung – burung camar  mengabarkan baiknya kami mengurungkan niat untuk pergi jika kami masih ingin merasakan hari esok. Dan dengan kesepakatan bersama, qurban kami alihkan ke Parung Banten.


Kini tahun 2007, Alhamdulillah, kami diberi kesempatan menginjakkan kaki di pasir Pulau Tunda. Kamis, 20 Desember 2007, bertepatan dengan hari Raya Idul Adha, Setelah Sholat Idul Adha usai, kami berkumpul di Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat untuk persiapan menuju lokasi acara. Rencana berangkat pukul 8 pun sempat “molor”, mengingat beberapa teman yang belum datang. Agar tak terasa menunggu, kami gunakan waktu untuk berpose bersama dengan spanduk identitas acara (gambar 1).


Jam sembilan tiga puluh kami pun menuju Serang.
Jalan Jakarta yang sepi, sunyi nan lengang  membuat kami berkhayal dan berandai andai. Alangkah asiknya jika suasana ini dapat dirasakan setiap hari tanpa hanya ada di musim libur saja. Hmm..sepertinya itu hanyalah mimpi kesiangan yang memang kami berangkat  agak siang hari itu. Mudah – mudahan semakin baik Jakarta kita.

 
Sepanjang jalan kami ngobrol dan “bergosip” ria. Lumayan, perjalanan 1,5 jam membuat kami tak sabar ingin merasakan nuansa laut dan hempasan ombak di atas kapal feri Tunda Ekspress “Awani RISKADream”. Tol Serang Timur kami keluar, selanjutnya kami menuju ke pelabuhan Karangantu. Tak jauh jarak tempuh menuju ke pelabuhan, lima belas menit kami sampai di pelabuhan Karangantu. Tak terlihat layaknya pelabuhan, hanya beberapa kapal nelayan bersandar di sepanjang kanal tersebut.

 
Jam 12 tiga puluh, “Layar” fery sudah terkembang, kemudi nakhoda sudah dipegang, wajah-wajah narsis pun mulai dipasang. Kami semua siap untuk “berlayar”  mengarungi lautan Hindia yang lumayan bikin jantung deg-degan. Pemandangan laut yang mempesona mata tak henti-hentinya kami bertasbih dan memanjatkan takbir atas kemahabesaran Allah SWT. Ternyata begitu agungnya ciptaanMu ya Allah. Ombak yang cukup besar yang bisa membuat pala nyut-nyutan alias puyeng tak kami “gubris”. Kami asik menikmati perjalanan dengan berfoto ria yang bisa menghabiskan puluhan roll film. Semua wajah kumpul dan beragam gaya pun ditonjolkan di depan lensa.

 

Setelah dua jam ditengah samudra yang ditemani cuaca yang cerah, kami tiba di Pulau Tunda pukul 3 sore. Pulau yang bersih dan jernih. Karang warna – warni begitu indah dan ikan hias tampak riang seolah tahu kalau mereka sedang diperhatikan oleh kami. Rasanya kami tak sabar ingin menyapa mereka.

 
Kami pun langsung menuju Pos Polisi Air yang masyarakat setempat menyebutnya dengan Balai Desa. Iya, disitulah banyak kegiatan kemasyarakatan dilangsungkan. Setelah kami melihat hewan kurban, mendung menggelayuti pulau dengan tiba-tiba. Hujan deras disertai angin kencang pun melanda dan sempat membuat kami beristighfar dan memanjatkan syukur padaNya. Alhamdulillah, kami bersyukur cuaca seperti ini tak kami alami di tengah laut tadi. Hanya tenggang waktu sekitar 20 menit cuaca drastis berubah menjadi angin badai. Kami tak kebayang jika hal itu kami rasakan di tengah laut. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih lindungi kami.

 
Setelah hujan badai itu telah berlalu, kami melihat tenda tempat berteduh hewan kurban porak poranda. Rencana kami melangsungkan pemotongan pun urung kami langsungkan hari itu. Akhirnya kami sepakat untuk bincang – bincang sejenak dengan tokoh masyarakat setempat dan perkenalan dari teman – teman RISKA.

 
Setelah sholat Dhuhur dan Ashar, kami pun berembuk membicarakan acara selanjutnya. Mengingat hari yang sudah sore, kami memutuskan untuk bersnorkling ria. Mengapung di air laut melihat panorama karang yang berwarna – warni dan ikan hias  yang membuat kami gemas. Semua pun bersiap diri, mengenakan pakaian selam (basahan) dan alat snorkling yang telah disiapkan. Setelah dekat bibir pantai, kami pun langsung ancang – ancang dan byuurr… berenang dilaut yang dipandu oleh Bang Ocit, putra asli Pulau Tunda. Di antara kami ada yang tidak bisa menikmati acara ta’aruf  dengan ikan dan karang karena tidak membawa pakaian selam (basahan) dan menjadi pemantau saja..hehehehe..

 
Karena cuaca agak gerimis, kami tak bisa berlama – lama bertemu dengan makhluk laut lainnya (sori ya spongebob,patrick, gak ketemu..:-D). Kami pulang ke rumah penginapan dan bersiap diri untuk sholat maghrib. Setelah maghrib dan Isya kami jamak, makan – makan dengan seafood menjadi sajian menu utama malam itu. Nasi, Ikan kembung goreng, kembung bakar, dan kembung sayur plus ditambah sambal kecap pedas membuat kami lupa kalau saat itu sedang berada di rumah orang..:D. Akhirnya setelah kami rasa cukup, kami bersantai ria mengobrol dengan Bang Ocit mengenai apa saja yang tadi dilihat sewaktu kami snorkling. “Iya ney, tadi lihat ikan kayak gini” Kata seorang dari kami sambil menunjuk katalog gambar ikan. “Ikan ini beracun, buntutnya. tapi kalo kita tenang, dia nggak ganggu”. Kata bang Ocit menjelaskan. Kami pun mengangguk layaknya anak TK yang sedang mendengarkan dongeng ibu gurunya.

 
Malam terus beranjak tapi kami tetap kumpul bercanda, bercerita. Di antara kami ada yang sudah mengkavling tempat untuk siap - siap masuk dalam peraduan tidurnya. Nampaknya sampai larut malam ada beberapa yang berjaga. Banyak kejadian –kejadian lucu yang muncul pada malam pertama kami menginap di pulau itu. Yang mungkin bisa dijadikan cerita untuk dipagi harinya.


Pagi jam 5, setelah sholat shubuh kami berjalan menuju Kampung Timur. Dalam strukturnya, masyarakat Pulau Tunda terbagi dalam dua kampung, Timur dan Barat. Dengan jumlah KK 300 orang, mereka kebanyakan bermata pencaharian nelayan. Di   perjalanan, kami melihat gedung sekolah yang baru saja direnovasi.”Ini sekolahan SD dan SMP” Kata Bang Ocit menjelaskan. “Untuk SMA sekolahnya diluar, harus ke Serang”  Tambah pria yang pernah kuliah di perikanan UNMU Malang itu. “Trus kalo ada yang sakit, gimana” Tanya seorang dari kami. “ Ada Puskesmas, kalo sakitnya parah, dirujuk ke Serang”. Jelasnya.


Jalan pagi yang lumayan jauh itu, tak membuat kami lelah. Terlabih ketika kami sampai di pesisir pantai yang terlihat indahnya sunrise di pagi hari. Goresan warna kuning di Ufuk Barat itu tak kami siakan. Wajah dan pose kami pajang di depan lensa, untuk kami jadikan kenangan – kenangan ke anak cucu kami kelak.


Semua ceria dan merasakan indahnya kebersamaan pagi itu. Ingin rasanya keceriaan itu kami sampaikan langsung ke teman atau keluarga kami di Jakarta. Tapi apa daya, sinyal HP tak ada. Serasa seperti terdampar, sulit komunikasi ke semua.

 
Setelah dari pantai dan puas dengan segala bentuk model. Akhirnya kami pun bersiap untuk melaksanakan acara inti, yaitu pemotongan hewan kurban. Jam 6.15 kami mulai menyiapkan segalanya. Kamera, tali, kantong bagian alat yang sudah kami siapkan. Acara pemotongan pun berlangsung khidmat dan lancar. Meskipun kami agak khawatir SARISKA mengamuk, tapi hal itu bisa diatasi oleh masyarakat pulau.

 
Dengan tambang yang dijeratkan ke seluruh kaki, SARISKA terkulai lemah, pasrah dengan apa yang akan menimpanya. Allaahu Akbar..Allaahu Akbar, Allaahu Akbar..Cressh..Darah keluar dari leher SARISKA ketika golok menyembelihnya. SARISKA tiada dan menemui Robnya. Kami pun lalu bersiap pada pemotongan kambing. Satu persatu kambing di bawa dan disembelih, hingga sembilan kambing terkapar dengan masing – masing nama dikalung lehernya.

 
Sementara di dalam ruangan Balai Desa (Pos Polisi Air), Ka Kiki dan teman – teman lainnya sedang memberikan hiburan ke 50 anak – anak pulau. Mereka diajak bermain game dan bergembira bersama. Riang dan canda mereka buat kami bahagia, bisa berbagi dengan mereka. Terlebih setelah mereka mendapatkan bingkisan sederhana yang kami bawa.

 
Pemotongan sapi sudah selesai, penyembelihan kambing telah usai, dan pemberian bingkisan sudah terlaksana. Kini kami pun bersiap untuk mempacking daging untuk 360 warga Pulau Tunda. Daging yang sudah di cacak, kini dijejerkan di dermaga laut yang selanjutnya kami bungkus dengan plastik hitam. Setelah dirasa siap, kami pun mulai membagikan amanah teman – teman ke masyarakat pulau Tunda. Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar tanpa adanya demonstarasi dari warga yang tidak kebagian. Semua masyarakat, satu pulau tunda, hari itu bisa merasakan nikmatnya daging sapi dan kambing yang jarang mereka temui sehari – hari. Dan untungnya Jaya Suprana tidak ikut dalam acara MERQURI 1428 H. Jika hadir, mungkin acara ini akan dimasukkan ke MURI sebagai acara PERTAMA DI PULAU TUNDA DAN TERBESAR. Tapi memang begitulah kenyataannya, menurut Bang Ocit, dulu pernah ada kurban dari Bupati Serang,  tapi kerbau bukan sapi. “Acara dari RISKA ini, baru pertama kali dan terbesar”.
Kata Ocit yang juga ketua Perkumpulan Nelayan Pulau Tunda berkomentar.

 
Pembagian daging pun dilangsungkan, masyarakat tertib mengantri mengambil bagiannya dengan menukar kupon. Kupon disobek, sebungkus daging sapi dan kambing dapat mereka bawa untuk dinikmati bersama keluarga. Tak lama kami bagikan bungkusan daging. Sekitar jam sebelas kurang, acara pembagian telah selesai. Dan kami pun istirahat bersiap – siap untuk sholat Jumat.

 
Selesai sholat Jumat, kami santap siang masih dengan menu lautnya. Ikan kembung..(katanya ne, biar pada pinter…). Setelah cukup kenyang dan dirasa bisa menahan laju angin laut masuk ke perut.  Kami semua pamit untuk kembali ke Jakarta. Anak – anak mengantar kami sampai ke dermaga. Sebelum sampai dermaga, kami berfoto ria di depan gapura selamat datang di Pulau Tunda.

 
Jam satu siang kami “berlayar’’ kembali menuju Pelabuhan Karangantu Serang. Ombak laut yang cukup besar sedikit membuat hati kami deg-degan. Terlebih ada himbauan dari ABK untuk tidak duduk di depan dek kapal. Tapi himbauan tersebut nyatanya hanya di dengar saja.
Dan kami menikmati ombak seperti permainan perahu yang ada di Dufan.

 
Akhirnya kapal Feri Tunda Ekspress ‘’Awani RISKADream’’ merapat di pelabuhan Karangantu. Adzan Ashar berkumandang mengingatkan kami untuk bersujud, bersyukur keharibaan-Nya atas keselamatan yang telah diberikan. Sebelum melanjutkan ke Jakarta, kami mencari masjid untuk sholat Ashar. Dan setelah itu, kami pun kembali ke Jakarta dengan membawa sedikit kenang-kenangan.

 
Departemen RISKA RESCUE CLUB hanyalah nama dan tidak berguna jika tidak ada yang lainnya. Dengan ini, kami menyampaikan terimakasih pada teman – teman RISKAder yang telah turut serta mensukseskan acara MERQURI 1428 H. Pak Ketua RISKA, Andika (terimakasih sudah mengijinkan kami berbagi kesana), Mba Yunis (makasih banget udah minjemin si “mungilnya”), Bang Nando (yang udah mau ikutan bareng kita dan pakai mobilnya), Mba Hesti, Daru (yang udah jadi debt Collector, hihiii.) Bung Firman, Kiki (Bu guru yang selalu menggembirakan anak – anak dan teman – teman), Ane, Neni, Asti, Happy, I’am, Mba Yanti, dan tentunya Bang Ocit, teman kita di pulau tunda yang bersabar mengajarkan kami renang..( siapa sich li yang ga bisa berenang? Ga tauu..siapa..hehehe..) memandu kami untuk melihat alam bawah laut, dan menyiapkan segala sesuatunya hingga acara berjalan sukses dan lancar.
Dan juga semua teman – teman yang tak bisa disebutkan satu persatu disini.

 
Berikut ini daftar nama Qurbaners di Acara Merduri 1428 H

A. Satu Ekor Sapi, atas nama :

1. Andika
2. Nando
3. Firman
4. Yunis
5. Hendra
6. Dewi
7. Fajar

 
B. Kambing 9 ekor atas nama :

1. Ane
2. Asti
3. Erika
4. Eko Cahyadi
5. Tika
6. Desi
7. Ino
8. Noval
9. Ikhsan (bang Ican)

 
Terima kasih semuanya, semoga Allah membalas dengan surga-Nya. Amiin.

 
Wassalam,
RISKA RESCUE CLUB

 

Add your comment

Your name:
Judul:
Comment:

Banner